You are currently browsing the monthly archive for Juni 2009.

Salah satu Imam besar Muslim berkata bahwa: “Kebenaran itu berat, tapi menyenangkan…” Sebaik apapun kita,sebenar apapun kita, dan sesempurna apaun kita, semua itu hanya akan menyampingkan kita pada wujud kebenaran itu sendiri. Manusia tidak akan pernah mencapai kebenaran yang sejati, kecuali dia telah menemukan cahaya sejati untuk hidup dan matinya.

Kebenaran yang diperbuat oleh manusia pada umumnya belum tentu merupakan kebenaran, karena pada dasarnya manusia itu sendiri memiliki kapasitas keterbatasan jangkuan dalam menjalani hidup. Kapasitas keterbatasan tersebutlah yang kemudian menjadikan manusia itu menjadi berbeda-beda dalam menentukan tolak ukur seberapa jauh kebenaran itu diwujudkan dalam kehidupan manusia sehingga menjadi konsep bentuk kebenaran yang telah ditemukan atau diusahakan. Bentuk kebenaran yang telah diusahakan tersebut hanya menjadikan penyajian isi atau wujud inti kebenaran menjadi tidak akurat, nisbi dan tidak abadi.

Bagaimana kita bisa mencapai kebenaran yang Hakiki? Tentunya untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita kembali pada petikan perkataan Imam Besar Al Gazhali di atas “Kebenaran itu berat, tapi menyenangkan…” sulitnya mencari kebenaran adalah wujud usaha manusia untuk mencari petunjuk dari Yang maha Benar, sedangkan sulitnya kebenaran juga melibatkan persoalan dalam pelaksanaan petunjuk dari Yang Maha Benar tersebut. Kedua kesulitan tersebut apabila divisualisasikan kepada jalan hidup tujuan manusia, maka bagi siapa pun yang telah menjalankannya dia pasti akan merasakan situasi yang menyenagkan, karena apa yang telah dia cari-dia telah diberikan petunjuk oleh Yang Maha Benar, dan kebenaran itu adalah kebenaran yang hakiki, kebenaran yang membawa segala usaha menjadi menyenangkan.

Indahnya hidupku, istriku telah mengandung calon generasi penerus masa depan. Ya Allah, segala harapan dan do’a yang ada dalam hatiku tentang calon buah hatiku, segalanya itu pula aku mohonkan kepada Engkau Yang Maha pengasih dan Maha Penyayang. Bimbinglah aku yang bodoh ini, tuntunlah aku yang sesat ini, dan yakinkanlah hamba-Mu ini untuk menemukan harapan yang terindah. Ya Allah, betapa indah hidupku ini. Terimakasih atas segala bimbingan-Mu selama ini.

Segala kekurangan yang ada dalam keluarga kecilku ini, dengan keyakinan hanya Engkaulah yang mampu untuk menjadikan kami menjadi keluarga kecil yang bisa belajar untuk hidup lebih baik dari hari ke hari. Banyak sekali emosi yang tak terkendali, banyak pula hal-hal yang tak patut terjadi justru kami telah melakukannya dalam kelluarga ini. Kami berharap, kami bisa menerima bentuk bimbinganmu agar bisa menjadi orang tua yang patut ditiru oleh anak-anak kami.

Ya Allah Yang Maha Kuat, hanya dengan kekuatan-Mu pula aku mampu untuk menjalani profesi dengan sebaik mungkin, lebih profesional, lebih cerdas, lebih jenius. Aku tak memiliki kekuatan apapun, aku tak pula mampu mencari lorong terbaik untuk keluar dari kekalutan masalah. Maka, tiada daya dan upaya selain hanya engkau Yang Maha Kuat, maha Kuasa ats segala-galanya. Ya Allah, lindungilah aku dari segala kesombongan,lindungilah aku dari rasa iri dan dengki, bebaskan aku dari rantai kemalasan, keluarkanlah aku dari kegelapan akal, hapuskanlah tubuh dan hatiku dari lumpur kemunafikan, wangikanlah segala tutur ucapku, beningkanlah pancaran hatiku dalam memandang dunia, dan bakarlah rasa khilaf lupaku pada hari akhirat, bekalilah aku dengan semangat rasa tanggung jawab, dan pada akhirnya jadikanlah aku seorang hamba-Mu yang hanya berserah diri sepenuhnya pada-Mu.

Ya Allah, bimbinglah aku menjalani ini semua. Persatukanlah aku selalu dan dalam bimbingan-Mu.


Keindahan alammu yang kaya,

Sudahkah terbagi sampai kampung kami?

Atau hanya berlalu terbawa kapal-kapal orang luar?

Indah budaya,

Luhur budimu, kemanakah berlalu?

Bunuh membunuh saudara sebangsa…

Karena fitnah dan kekuasaan?

Dan yang harus menjagamu demi kewajiban,

Justru berkhianat menipu rakyat merampok, menguras isi alammu…

Alam ini benarlah jenuh, memandang perilaku ini

Dan janganlah kau adukan pada Tuhan,

Tentang hukuman…

Dan ini mungkin sebaik-baiknya ujian…

Untuk kami disini

Garut, 26 Maret 2009


Seberapa pun hidup ini menekan kepalamu;

Seberapa pun hidup ini menghimpit dadamu;

Seberapa pun hidup ini menguras keringatmu;

Seberapapun hidup ini mengeringkan air matamu;

Seberapapun hidup ini menumpahkan darahmu;

Seberapapun hidup ini…

Ini hanyalah hidup;

Dan yakinlah bahwa setelah hidup ini,

akan ada hidup yang lebih baik

yakinlah…

yakinlah…

dan yakinlah…