You are currently browsing the category archive for the 'belajar dalam ibadah' category.

Salah satu Imam besar Muslim berkata bahwa: “Kebenaran itu berat, tapi menyenangkan…” Sebaik apapun kita,sebenar apapun kita, dan sesempurna apaun kita, semua itu hanya akan menyampingkan kita pada wujud kebenaran itu sendiri. Manusia tidak akan pernah mencapai kebenaran yang sejati, kecuali dia telah menemukan cahaya sejati untuk hidup dan matinya.

Kebenaran yang diperbuat oleh manusia pada umumnya belum tentu merupakan kebenaran, karena pada dasarnya manusia itu sendiri memiliki kapasitas keterbatasan jangkuan dalam menjalani hidup. Kapasitas keterbatasan tersebutlah yang kemudian menjadikan manusia itu menjadi berbeda-beda dalam menentukan tolak ukur seberapa jauh kebenaran itu diwujudkan dalam kehidupan manusia sehingga menjadi konsep bentuk kebenaran yang telah ditemukan atau diusahakan. Bentuk kebenaran yang telah diusahakan tersebut hanya menjadikan penyajian isi atau wujud inti kebenaran menjadi tidak akurat, nisbi dan tidak abadi.

Bagaimana kita bisa mencapai kebenaran yang Hakiki? Tentunya untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita kembali pada petikan perkataan Imam Besar Al Gazhali di atas “Kebenaran itu berat, tapi menyenangkan…” sulitnya mencari kebenaran adalah wujud usaha manusia untuk mencari petunjuk dari Yang maha Benar, sedangkan sulitnya kebenaran juga melibatkan persoalan dalam pelaksanaan petunjuk dari Yang Maha Benar tersebut. Kedua kesulitan tersebut apabila divisualisasikan kepada jalan hidup tujuan manusia, maka bagi siapa pun yang telah menjalankannya dia pasti akan merasakan situasi yang menyenagkan, karena apa yang telah dia cari-dia telah diberikan petunjuk oleh Yang Maha Benar, dan kebenaran itu adalah kebenaran yang hakiki, kebenaran yang membawa segala usaha menjadi menyenangkan.

Indahnya hidupku, istriku telah mengandung calon generasi penerus masa depan. Ya Allah, segala harapan dan do’a yang ada dalam hatiku tentang calon buah hatiku, segalanya itu pula aku mohonkan kepada Engkau Yang Maha pengasih dan Maha Penyayang. Bimbinglah aku yang bodoh ini, tuntunlah aku yang sesat ini, dan yakinkanlah hamba-Mu ini untuk menemukan harapan yang terindah. Ya Allah, betapa indah hidupku ini. Terimakasih atas segala bimbingan-Mu selama ini.

Segala kekurangan yang ada dalam keluarga kecilku ini, dengan keyakinan hanya Engkaulah yang mampu untuk menjadikan kami menjadi keluarga kecil yang bisa belajar untuk hidup lebih baik dari hari ke hari. Banyak sekali emosi yang tak terkendali, banyak pula hal-hal yang tak patut terjadi justru kami telah melakukannya dalam kelluarga ini. Kami berharap, kami bisa menerima bentuk bimbinganmu agar bisa menjadi orang tua yang patut ditiru oleh anak-anak kami.

Ya Allah Yang Maha Kuat, hanya dengan kekuatan-Mu pula aku mampu untuk menjalani profesi dengan sebaik mungkin, lebih profesional, lebih cerdas, lebih jenius. Aku tak memiliki kekuatan apapun, aku tak pula mampu mencari lorong terbaik untuk keluar dari kekalutan masalah. Maka, tiada daya dan upaya selain hanya engkau Yang Maha Kuat, maha Kuasa ats segala-galanya. Ya Allah, lindungilah aku dari segala kesombongan,lindungilah aku dari rasa iri dan dengki, bebaskan aku dari rantai kemalasan, keluarkanlah aku dari kegelapan akal, hapuskanlah tubuh dan hatiku dari lumpur kemunafikan, wangikanlah segala tutur ucapku, beningkanlah pancaran hatiku dalam memandang dunia, dan bakarlah rasa khilaf lupaku pada hari akhirat, bekalilah aku dengan semangat rasa tanggung jawab, dan pada akhirnya jadikanlah aku seorang hamba-Mu yang hanya berserah diri sepenuhnya pada-Mu.

Ya Allah, bimbinglah aku menjalani ini semua. Persatukanlah aku selalu dan dalam bimbingan-Mu.

Apa itu jenius?

Wikipedia, “Jenius itu  untuk menyebut seseorang dengan kapasitas mental di atas rata-rata di bidang intelektual, terutama yang ditunjukkan dalam hasil kerja yang kreatif dan orisinal. Seorang yang jenius selalu menunjukkan individualitas dan imajinasi yang kuat, tidak hanya cerdas, tapi juga unik dan inovatif.”

Jenius itu berarti: Intelektual, kreatif, original, individualitas dan imajinasi yang kuat, cerdas, unik, inovatif. (hehehe… rangkuman kata kunci jenius nih…)

si kakek jenius

Einstein, kenapa dia sering disebut2 sebagai orang jenius? Kalau dilihat dari tampangnya sih, ehm… jenius githu? (meragukan…) kayak seorang kakek2 pengin kawin nikah lagi (menurut mata awam gue nih). Bener2 ga nyangka tuh.

Menurut otak cethek dan keawamanku hasil penelitianku, “Sok kelihatan Jenius itu  untuk menyebut seseorang dengan kapasitas nyontek dan bikin contekan hasil belajar yang luar biasa, terutama yang ditunjukkan dalam hasil contekan kerja yang kreatif dan minimal photokopi diperkecil jadi tambah hemat orisinal. Seorang yang Sok kelihatan jenius selalu menunjukkan kelihaian usaha dan imajinasi yang kuat, tidak hanya licik cerdik, tapi juga amantidak ketahuan nyonteknya penuh dengan inovasi2.”

Wah… kalau begini memang banyak mahasiswa maupun pelajar indonesia itu yang   Sok kelihatan Jenius, huancur Hebat dong, jadi bangsa Indonesia pasti malu tujuh turunan bangga memiliki generasi2 penerus yang Sok kelihatan Jenius.

Merdeka!!!!

adanya sistem belajar akan menjadikan kegiatan belajar itu menjadi semakin berkualitas.

belajar tanpa sistem belajar seperti perjalanan yang berjalan tanpa pola.

apa yang layak untuk dipelajari,

apa yang tidak layak untuk dipelajari,

dan kenapa ada hal yang layak dan tidak layak dipelajari itu merupakan pertanyaan mendasar tentang begitu pentingnya sebuah sistem dalam belajar.

sistem belajar terbaik itu seperti apa?

belajar untuk eksistensi hidup.

belajar untuk hakikat ilmu…

belajar meraih ilmu yang bermanfaat…

kehidupan adalah mencari manfaat,

untuk kehidupan itu sendiri maupun untuk kehidupan yang akan mendatang,

untuk kehidupan kita, maupaun untuk kehidupan makluk lain.

ilmu yang bermanafaat dilahirkan dari sebuah sitem belajar yang baik.

sistem yang berdasarkan hakekat…